contemplation

Aku (Sempat) Lupa Bagaimana Caranya Bersyukur

3:05 AM


Aku baru saja men-stalk akun twitter salah satu teman yang kukenal dari internet. Tidak sengaja sebenarnya, karena aku menemukan akunnya saat melihat-lihat tweet orang lain.

(Iya, aku masih bermain twitter. Iya, kadang aku suka stalking orang di internet. Maaf telah mengecewakanmu.)

Aku men-scroll profilnya dan membaca tweet-tweetnya. Tak sengaja aku menemukan tweet di mana dia mengingat kembali kematian ibunya setahun yang lalu.

Aku terkejut.
Aku terkejut karena sebelumnya aku sudah tahu bahwa ayahnya telah lama meninggal.
Yang berarti sekarang, sejak tahun lalu, dia tidak punya orang tua.
Kedua orang tuanya sudah tiada, meninggalkan dia yang masih duduk di bangku kuliah.

Aku tidak tahu apakah dia punya adik atau kakak, tapi dia tidak pernah mengunggah sesuatu yang menunjukkan bahwa ia punya saudara kandung. Mengingat dia adalah seorang ekstrovert dan lebih ke feeler daripada thinker, aku rasa dia pasti akan menunjukkan pada dunia maya tentang kehidupannya. Atau mungkin dia hanya tidak mau menunjukkan hal itu di media sosialnya, aku tidak tahu. Kami tidaklah sedekat itu untuk membicarakan hal-hal yang mendalam.

Mengetahui kondisinya yang seperti itu membuatku berpikir betapa tidak bersyukurnya aku atas keadaanku. Aku beruntung masih bisa memiliki keluarga yang utuh. Sedangkan dia telah kehilangan kedua orangtuanya, sumber kehangatan keluarga. Aku sudah terbiasa dengan cerita beberapa temanku yang hanya dibesarkan oleh salah satu orang tuanya, tetapi menjadi anak yatim piatu (dan aku asumsikan dia tidak punya seorang kakak yang sudah mapan)  di usianya yang masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi adalah hal lain.

Pastilah sulit baginya untuk menerima kenyataan bahwa ia tidak akan pernah bisa lagi pulang ke kampung halaman dengan disambut oleh orang tuanya. Sangat sulit baginya untuk menyadari bahwa orang tuanya tidak akan datang ke acara wisudanya saat ia lulus nanti. Perasaannya pastilah campur aduk, I mean, dia sudah berjuang sekuat tenaga untuk dapat diterima di salah satu kampus ternama di negeri ini, di jurusan yang sangat ketat pula persaingannya. Dia sudah membuktikan kepada semua orang bahwa dia bisa kuliah di sini, di jurusan yang dia idam-idamkan meski sangat sulit masuk ke sana karena kuotanya yang memang sedikit sekali. Dia bahkan rela mengorbankan satu tahunnya setelah lulus SMA untuk belajar khusus untuk mengejar jurusan itu.

Banyak hal yang telah ia korbankan demi dapat meraih mimpi, mengejar cita-cita lewat pendidikan yang lebih tinggi. Pastilah ia berharap dapat membuat bangga ibunya saat ia lulus nanti. Pastilah dulu dia berandai-andai bagaimana saat wisuda nanti ibunya akan datang dari kampung, membawa bunga dan memeluknya, menangis bahagia dan berseru dalam hati, "Anakku lulus dari UI!"

Namun sayangnya, hal itu tidak akan pernah terjadi karena ibunya sudah lebih dulu pergi ke tempat yang lebih indah dari dunia ini.

Sejak tahun lalu, dia harus menerima kenyataan yang pahit ini: bahwa tidak ada lagi orang tua aslinya yang dapat ia buat bangga saat lulus nanti, setelah semua pengorbanan yang ia lakukan untuk dapat meraih jurusan impiannya yang sekarang menjadi kenyataan. Ia tidak akan bisa melihat air muka bahagia orang tuanya saat menghadiri acara wisudanya. Sudah banyak pengorbanan yang ia lakukan, kenapa Tuhan begitu tega mengambil apa yang ingin sekali ia banggakan?

But I'm telling you, D, if you are reading this, Tuhan punya rencana. Gue emang gak mengenal lo secara mendalam, toh kita kenal dari internet, tapi gue percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita itu sudah direncanakan Tuhan. Bukan, bukan rencana untuk membuat lo hancur, tapi rencana yang baik, saking baiknya kita sendiri gak bisa ngebayangin, bahkan nebak aja gak bisa. Memang menyakitkan, memang menyedihkan, tapi ini bukan akhir dari segalanya. Percayalah, suatu saat nanti Tuhan sendiri yang akan membalikkan keadaanmu yang sekarang dengan kebahagiaan yang berlipat ganda, jika kamu tetap setia kepada-Nya dalam segala  kesesakan dan kesukaanmu.

Ini menjadi refleksi bagiku juga untuk tetap bersyukur atas apa yang aku punya. Aku masih punya kedua orang tuaku, meski hidup keluarga kami pas-pasan untuk ukuran orang yang tinggal di kota. Tapi Tuhan selalu menolong kami setiap kami butuh pertolongan. Banyak hal yang terjadi dalam keluargaku, kami semua diuji untuk tetap bertahan meski dalam kondisi sulit, meski banyak air mata dan sakit hati dan amarah. Tetapi Tuhan masih memelihara kami, karena kami tidak dibiarkan jatuh sepenuhnya. Pada akhirnya, hanya tangan Tuhanlah yang menolong kami keluar dari kesulitan kami.

Aku masih punya keluarga yang mengasihiku, walaupun tidak selalu dalam cara yang kuinginkan. Tetapi mereka tetap keluargaku. Mereka mengasihiku. Mereka masih hidup, utuh, setidaknya sampai saat ini. Seringkali aku bertingkah seenaknya, sometimes I take my parents for granted. Aku masih egois, namun aku masih tetap belajar untuk menurunkan egoku.

Aku juga sering kali buta akan keadaan orang lain, mungkin karena sifat egoisku juga. Aku merasa yang paling sedih, yang paling sakit dibanding orang-orang sekitarku, padahal aku tidak tahu permasalahan apa yang sedang mereka hadapi. Padahal, pasti ada orang-orang yang menanggung beban lebih berat daripada diriku. Kisah temanku D adalah salah satu buktinya. Kita tidak boleh menilai orang dari luarnya saja tanpa mengetahui kisah mereka. Mereka punya cerita sendiri yang membuat mereka menjadi diri mereka yang sekarang. Bukalah mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan tangan yang terbuka untuk menerima mereka. Dan jangan pernah, jangan pernah, meremehkan apa yang mereka hadapi, karena kita tidak tahu persis bagaimana rasanya menjadi dia. Kau tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi pada mereka. Berbuat baiklah, bersimpatilah, berilah dukungan dan berdoalah untuk menolongnya.

Dan D, jangan lupa berdoa ya. Serahkan segala hal mengganggu hati dan pikiranmu kepada-Nya, karena hanya Dia yang bisa mengerti dan menolongmu seutuhnya. Jangan lupa, dalam setiap langkah hidupmu, Tuhan punya rencana yang baik untukmu. Jangan tinggalkan Dia karena tanpa Dia, kita tidak bisa apa-apa. Semangat!